tapi, tapi.....gatau kenapa pas ngerjain itu malah yang kepikiran fanfic L'Arc, alhasil karangannya bisa dibilang "absurd".. sumpah absurd abis, baru pertama kali bikin fanfic, dikasih ke guru, dengan tema yang seperti itu pula!!!! arrrggghhh
gaktau mesti ngomong apalagi, mendingan runa share aja kali ya.-. jarang-jarang lagi baca fanfic yang kaya gini muahahahaaa promosiiii^^ *peace*
yaudah deh, let's begin!!!
NOTE : JANGAN ASAL DI CO-PAS AJA YAA MINNA!!! MARI COBA MENGHARGAI KARYA SESEORANG, WALAUPUN SEJELEK APAPUN ITU, KARENA KERJA KERAS ITU TAK TERNILAI HARGANYA ;) SALAM SUPER DARI RUNACHAN^^
1 Februari 2013, disaat awan-awan dan langit bersinar
cerah..
“Hey, lihat!! Awannya bagus sekali, wah mesti di foto nih,
jarang-jarang bisa mengabadikan saat seperti ini” teriak Ken. Cowok super update, terkenal, dan punya followers
banyak di twitternya.
“Haha iya ya, coba saja ada pelangi nya. Pasti jadi
pemandangan yang bagus banget!” sahut Tetsu. Cowok periang yang satu ini memang
suka segala hal tentang pelangi. Eits, bukan berarti dia cowok yang dalam hal
negatif. Karena menurutnya, pelangi yang berbeda warna dan menyatu menjadikan
suatu hal yang indah. Yaa, perbedaan memang indah, tapi...tergantung kita nya
juga sih..
“Mendingan juga dinikmati pemandangan yang kaya gini,
bukannya malah foto-foto. Membuang waktu saja” sindir Yuki tenang, sambil
melirik Ken yang sedak sibuk dengan gadget-nya.
“Paling nanti di-upload
ke instagram. Biasa, untuk menambah tingkat eksisnya” sahutku seraya kepala
menengadah ke atas langit. Pemandangan yang benar-benar indah, jarang sekali
terjadi.
“Yaaa, yang kaya gini kan jarang, Hyde. Tapi dugaanmu benar
juga sih, lagipula followers ku juga senang kok dengan apa yang ku upload.
Karena memang berguna” ucap Ken santai tanpa melihatku. Ia masih sibuk dengan
gadgetnya. Mengedit foto itu ke efek yang lebih bagus, agar menambah citra seni
dari gambar tersebut.
“sudah yuk, pulang. Nanti keburu siang, aku masih ada les
nih” erang Tetsu memaksa. Paksaan itu jelas tertuju pada Ken, yang masih diam
ditempat, sibuk dengan benda asing itu.
“ya sudah, ayo. Ken, kau mau ikut, tidak? Tinggal nih” ancam
Yuki yang sudah mulai terlihat tidak sabar.
“ennggg.... iya iya, ayo” Ken bangkit dengan sangat malas,
terlihat sekali kekecewaan diraut wajahnya. Pasti dia belum selesai berkutat di
dunia maya.
Kami pun berjalan dibawah terik sinar matahari. Panas sekali
hari ini, panas yang sangat menyengat, kalau berlama-lama bisa terbakar. Tak
lama kemudian, terdengar keluhan..
“waahhh, panas sekali yaa hari ini! Aduh aku lupa bawa
jaket, pula! Lama-lama bisa hitam nih” ternyata yang mengeluh si Tetsu. Memang,
diantara kami bertiga, kulit dia lah yang paling terawat. Pantas saja banyak
yang bilang dia cantik, padahal kan dia cowok.....
“halah, baru gini aja sudah mengeluh. Bagaimana kalau
“disana” nanti” sambungku..
“hah? Apa maksudmu dengan kata “disana” Hyde?” tanya Tetsu
yang membuatku sedikit tersenyum kecil. Hehe aku memang usil.
“Sudah-sudah jangan ribut begini dong. Kan nggak baik. Nih,
aku bawa jaket kok, Tetsu. Bisa kamu pakai” ucap Yuki tenang. Entah kenapa,
Yuki ini memang satu diantara kami bertiga yang mempunyai sifat tenang, tidak
terburu-buru, sabar, dan tentu nya mau mengalah. Sifatnya dewasa sekali
mengingat umur kami yang masih 15 tahun.
“Kenapa bisa panas banget begini ya?” ucapku dengan
bertanya-tanya.
“tak pelak lagi, nama nya global warming yang artinya
pemanasan global” jelas Yuki.
“pemanasan global?” tanya Tetsu
“apa itu?” sambungku
“apa penyebab
dari pemanasan global?” tanyaku penasaran.
“hmmm..
penyebab utama nya ialah manusia” jawab Yuki lagi dengan tenang.
“HAHHH???
MANUSIA?” astaga, si Tetsu berteriak sangat histeris. Hampir semua orang yang
ada disekitar kami, mengalihkan pandangannya. Aduh, Tetsu...
“sssttt.....jangan
teriak gitu dong Tetsu. Iya, manusia. Manusia itu kan sering berpergian
menggunakan motor ataupun mobil, asap dari kendaraan tersebut menyebabkan
semakin menipisnya lapisan ozon di bumi, sinar ultraviolet yang seharusnya
memantulkan sinar matahari jadi gak bisa, sehingga panasnya matahari berasa
banget sampai sini” terang Yuki. Entah kenapa, aku dan Tetsu hanya bisa diam
mendengar jawabannya. Kali ini, Yuki benar-benar terlihat seperti ilmuwan.
Ucapannya sangat bijak sekali.
“oooo.... jadi gitu” aku hanya bisa menganggukan kepala
saja. Sekaligus otak ini mencerna satu persatu perkataan Yuki.
“Udah. Cuma itu doang?” pertanyaan selanjutnya dari Tetsu.
“Ya nggak lah, masih banyak lagi” sontak kami semua kaget.
Sepertinya topik pembicaraan kami mulai “panas”. Sosok yang sedaritadi berkutat
dengan benda tak-kenal-waktu itu mulai berbicara.
“yaa kaya penebangan pohon-pohon secara liar. Pohon itu kan
penghasil oksigen yang dibutuhkan manusia. Kalau pohon ditebang terus,
bisa-bisa bumi kiamat!” ucap Ken santai. Namun, kalimat terakhirnya itu seperti
bumerang yang menghujam jantungku. Iya, aku takut.
“yaa, benar kata Ken. Bukan cuma itu juga kok. Kalian tau
efek rumah kaca?” tanya Yuki menatap kami semua.
“enggak. Apa tuh?” sahut Tetsu semangat. Terlihat aku masih
pucat karena perkataan Ken tadi.
“penyebab lain dari pemanasan global. Menggumpalnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, Co, gas
metan, CFC dan sebagainya, sehingga panas sinar matahari tidak diserap
seutuhnya oleh bumi dan dipantulkan kembali ke luar angkasa. Yaa, intinya sih,
kita nggak perlu pakai pewangi, pendingin ruangan, dan lainnya” jawaban Yuki
benar-benar akurat. Pantas saja, nilai IPA nya selalu hampir mencapai 100.
“Lalu....ba..ba..bagaimana cara men-ce-gah-nya?” ucapanku
menjadi gagap, aku masih kaget dengar pernyataan Ken tadi. Aku berharap agar
ada pencegahannya karena aku benar-benar ingin mencegah ki... ah, entah lah,
pokoknya kata yang tidak menyenangkan itu.
“mencegahnya itu yaa seperti melakukan penghijauan,
mengurangi produksi sampah organik, mengurang pemakaian plastik, menghemat
energi. Juga, untuk terus menjaga eksositem di bumi ini, kita semua harus
menjaga, merawat, membudidayakan hewan-hewan yang hampir punah, karena akan
merusak ekosistem alam kita” jelas Ken panjang lebar. Bersyukur sekali, dia
tidak mengucapkan kata-kata yang membuat bulu kudukku merinding lagi.
“hmmm... aku mulai mengerti sekarang. Semua kembali ke alam.
Istilah kerennya, Back To Nature!!!” ucap Tetsu semangat.
“Nah, betul itu!!” sahut Yuki mantap sambil mengacungkan
kedua ibu jari nya.
“tapi apa itu semua benar-benar bisa mencegahnya?” giliran
aku yang bertanya. Pembicaraan ini mulai terlihat serius.
“tentu saja. Walaupun baru segelintir orang yang
melakukannya, semoga saja akan berdampak pada semuanya. Karena perubahan besar
terjadi mulai dari hal kecil. Sekecil apapun tindakan kita untuk mencegah
pemanasan global, itu sangat berarti untuk bumi kita tersayang ini” tegas Ken.
Kenapa Ken tahu semua nya? Apa jangan-jangan sebenarnya dia juga cerdas seperti
Yuki. Haha iya, Ken kalau dikelas selalu mendapat masalah dengan guru, karena
dia yang malas belajar. Kerjaannya hanyalah bermain handphone saja. Apa tak bosan ya?
“ehm... misalnya seperti kita sekarang ini? Yang sedang
berjalan kaki menuju rumah masing-masing. Apakah berpengaruh?” tanyaku dengan
suara merendah.
“ya!! 100 untukmu Hyde. Lagipula sekarang banyak kok yang
melakukan cara seperti kita ini. Ada yang bersepeda, berjalan kaki, menaiki
kuda, naik becak juga mungkin ada” ucap Ken dengan selingan canda
“hahaha, bisa saja kau, Ken” terdengar tawa Tetsu yang
membuat keadaan sedikit mencair.
“yaa, lebih baik kita sering-sering seperti ini, kan
sekaligus mencegah pemanasan global” kata Yuki santai.
“wah, bisa besar betisku lama-lama kalau begini. Tidak mau!
Tidak mau! Tidak mauuu!!!” erang Tetsu yang membuat kami semua langsung
tertawa. Dia memang sangat khawatir bila ada apa-apa yang terjadi pada dirinya.
Dasar, Tetsuya. Akhirnya, kami pulang ke rumah masing-masing, aku tahu, pasti
setelah ini, Tetsu langsung pergi bersiap untuk berangkat les, Yuki pasti akan
langsung mngerjakan PR untuk besok, kalau Ken dia pasti sedang asik bermain game saat ini, yaa dia memang yang
paling “melek” teknologi, sedangkan aku...hmmmm aku mulai mempelajari
sesuatu...
Dari sini aku mendapat pelajaran baru, bahwa kita harus
menyayangi bumi kita, bumi yang kita pijak ini. Karena kalau tidak, akan
terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Lakukan dari sekarang untuk masa depan.
Karena masa depan dunia ada di tangan kita masing-masing J
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar